MASUKNYA
ISLAM DI JAWA
MAKALAH
Disusun guna
memenuhi tugas
Mata kuliah: Islam dan Budaya Jawa
Pengampu: M. Rikza Chamami, MSi
Disusun oleh:
Akrom
Syafi’i (133511099)
Laras
Asprilla (133511101)
Arrohmatin
Diana (133511102)
Ahmad
Minanur Rohman (133611033)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
I. I.
Pendahuluan
Islam sebagai
Agama yang universal (Rahmatan Lil’alamin),
memiliki sikap adaptable untuk tumbuh
di segala tempat dan waktu. Hanya saja pengaruh lokalitas dan tradisi dalam
kelompok suku bangsa, diakui atau tidak, sulit dihindari dalam kehidupan
masyarakat muslim. Namun demikian, sekalipun berhadapan dengan budaya lokal di
dunia, keuniversalan islam tetap tidak akan batal
Satu
kebudayaan daerah yang cukup berpengaruh di Indonesia adalah kebudayaan Jawa,
yang telah ada sejak zaman pra-sejarah. Kedatangan hindu dan budayanya di Jawa
berkembanglah Hindu-jawa. Tapi disisi itu islam di Jawa telah masuk dengan
berbagai alur, dan proses masuknya Islam di Nusantara juga memilki proses yang
panjang, yang pastinya juga ada kaitannya dengan peran Walisongo. Maka dari itu
kita akan membahas mengenai hal-hal tersebut
II. II. Rumusan Masalah
A.
Bagaimanakah
Alur Penyebaran Islam di Jawa ?
B.
Proses
Masuknya Islam di Nusantara (Indonesia) ?
C. Bagaimana
Peran Walisongo dalam menyebarkan Islam
di Jawa ?
III. III.
Pembahasan
A. Alur
Penyebaran Islam di Jawa
Dari segi alur
wilayah pengislaman di Jawa, maka dapat diketahui bahwa wilayah Jawa Timur
terlebih dahulu menerima Islam. Wilayah itu antara lain: Trawulan, Gresik,
Tuban, Ampel, dan lingkungan kerajaan Majapahit. Adapun Wilayah Jawa Tengah
yang terlebih dahulu menerima Islam adalah Jepara, Kudus, dan daerah alas Ronan
batang. Jepara dan Kudus melalui tokoh Raden Rahmat, sedangkan alas Roban
melaului Raden Fatah.
Media yang digunakan dalam menyebarkan Islam masa awal
adalah memanfaatkan jalur perdagangan dan perkawinan. Disamping itu juga
melalui pesantren. Sebagaimana yang dirintis oleh Sunan Ampel, jalur perkawinan
sebagaimana terjadi pada Darwati dari Cempa Muslim dan Majapahit atau
sebagaimana Raden Rahmat dengan putri Wilatikta , yang menurut hikayat
Hasanuddin putri itu bernama Nyai Gede Nila (Wasit, 1998: 17). Sebagaimana
diperinci alur perjalanan Agama Islam sebagai berikut:
a.
Melalui
perdagangan
b.
Melalui
perkawinan
c.
Melalui
Pendidikan (melalui pondok pesantren)
d.
Sufisme
(mengajak untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT)
Melalui Seni (lewat rebana, Wayang dan
Lukis)
B. Proses
Masuknya Islam di Nusantara (Indonesia)
Dalam kajian ilmu sejarah,
tentang masuknya Islam di Indonesia masih “debatable”. Oleh karena itu perlu
ada penjelasan lebih dahulu tentang pengertian “masuk”, antara lain:
1.
Dalam arti sentuhan (ada
hubungan dan ada pemukiman Muslim).
2.
Dalam arti sudah berkembang
adanya komunitas masyarakat Islam.
3.
Dalam arti sudah berdiri
Islamic State (Negara/kerajaan Islam).
Selain itu juga masing-masing
pendapat penggunakan berbagai sumber, baik dari arkeologi, beberapa tulisan
dari sumber barat, dan timur. Disamping jiga berkembang dari sudut pandang
Eropa Sentrisme dan Indonesia Sentrisme.
v Ada
Beberapa Pendapat Tentang Awal Masuknya Islam di Indonesia.
1. Islam
Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7:
1.1. Seminar
masuknya islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan perjalanan
Al mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja
Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan telah ada
koloni Arab Muslim di pantai timur Sumatera.
1.2. Dari
Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum
Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para
pedagang muslim yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya
ke China.
1.3. Dari
Gerini dalam Futher India and Indo-Malay Archipelago, di dalamnya menjelaskan
bahwa kaum Muslimin sudah ada di kawasan India, Indonesia, dan Malaya antara
tahun 606-699 M.
1.4. Prof.
Sayed Naguib Al Attas dalam Preliminary Statemate on General Theory of
Islamization of Malay-Indonesian Archipelago (1969), di dalamnya mengungkapkan
bahwa kaum muslimin sudah ada di kepulauan Malaya-Indonesia pada 672 M.
1.5. Prof.
Sayed Qodratullah Fatimy dalam Islam comes to Malaysiamengungkapkan bahwa
pada tahun 674 M. kaum Muslimin Arab telah masuk ke Malaya.
1.6. Prof.
S. muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnay berjudul Islam di India
dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis
menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah ada hubungan dengan kaum
muslimin Indonesia.
1.7. W.P.
Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled From Chinese
sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang memberitahukan adanya
Aarb muslim berkunjung ke Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih = Arab
Muslim).
1.8. T.W.
Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of The Propagation of The
Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke Indonesia pada tahun
1 Hijriyah (Abad 7 M).
2.
Islam Masuk
Ke Indonesia pada Abad ke-11:
2.1. Satu-satunya
sumber ini adalah diketemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar,
Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya. Pada makam itu
terdapat prasati huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082)
3.
Islam Masuk
Ke Indonesia Pada Abad Ke-13:
3.1. Catatan
perjalanan marcopolo, menyatakan bahwa ia menjumpai adanya kerajaan Islam
Ferlec (mungkin Peureulack) di aceh, pada tahun 1292 M.
3.2. K.F.H.
van Langen, berdasarkan berita China telah menyebut adanya kerajaan
Pase (mungkin Pasai) di aceh pada 1298 M.
3.3. J.P.
Moquette dalam De Grafsteen te Pase en Grisse VergelekenMet Dergelijk
Monumenten uit hindoesten, menyatakan bahwa Islam masuk
ke Indonesia pada abad ke 13.
3.4. Beberapa
sarjana barat seperti R.A Kern; C. Snouck Hurgronje; dan Schrieke, lebih
cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13,
berdasarkan saudah adanya beberapa kerajaaan islam di kawasan Indonesia.
v Siapakah
Pembawa Islam ke Indonesia ?
Sebelum pengaruh islam masuk
ke Indonesia, di kawasan ini sudah terdapat kontak-kontak dagang, baik
dari Arab, Persia, India dan China. Islam secara
akomodatif, akulturasi, dan sinkretis merasuk dan punya pengaruh di
arab, Persia, India dan China. Melalui perdagangan itulah
Islam masuk ke kawasan Indonesia. Dengan demikian
bangsa Arab, Persia, Indiadan china punya nadil melancarkan
perkembangan islam di kawasan Indonesia.
a) Gujarat (India)
Pedagang islam
dari Gujarat, menyebarkan Islam dengan bukti-bukti antar lain:
1.
ukiran batu
nisan gaya Gujarat.
2.
Adat istiadat dan budaya India islam.
b) Persia
Para pedagang Persia menyebarkan
Islam dengan beberapa bukti antar lain:
1.
Gelar “Syah” bagi raja-raja
di Indonesia.
2.
Pengaruh aliran “Wihdatul
Wujud” (Syeh Siti Jenar).
3.
Pengaruh madzab Syi’ah (Tabut
Hasan dan Husen).
c) Arab
Para pedagang Arab banyak
menetap di pantai-pantai kepulauanIndonesia, dengan bukti antara lain:
1.
Menurut al Mas’udi pada tahun
916 telah berjumpa Komunitas Arab dari Oman, Hidramaut, Basrah, dan Bahrein
untuk menyebarkan islam di lingkungannya, sekitar Sumatra, Jawa, dan Malaka.
2.
munculnya nama “kampong Arab”
dan tradisi Arab di lingkungan masyarakat, yang banyak mengenalkan islam.
d) China
Para pedagang dan angkatan laut
China (Ma Huan, Laksamana Cheng Ho/Dampo awan ?), mengenalkan islam di pantai
dan pedalaman Jawa dan sumatera, dengan bukti antar lain :
1.
Gedung Batu
di semarang (masjid gaya China).
2.
Beberapa
makam China muslim.
3.
Beberapa wali yang dimungkinkan
keturunan China.
Dari beberapa bangsa yang
membawa Islam ke Indonesia pada umumnya menggunakan pendekatan
cultural, sehingga terjadi dialog budaya dan pergaulan social yang penuh
toleransi (Umar kayam:1989)
v Teori-teori
penyebaran Islam di Jawa
Penyebaran Islam di Jawa melalui :
1. Perdagangan
Pedagang-pedagang muslim yang melalui
perkembangan lalu lintas pelayaran dan perdagangan dunia yang ramai mulai abad
ke-7 sampai abad ke-16, yaitu antara Eropa, Timur Tengah, India, Asia Tenggara,
dan Cina banyak menetap di kota-kota pelabuhan dan membentuk perkampungan
muslim.[2] Di
perkampungan itu, ada beberapa orang yang melakukan proses islamisasi yang
dibantu para pedagang muslim untuk lebih mengenal Islam. Mereka tertarik masuk
Islam karena mereka melihat bahwa Islam tidak memaksa atau merepotkan penduduk
non muslim untuk mengikuti ajaran Islam. Mereka dapat bersosialisasi dengan
baik dengan penduduk non muslimtanpa adanya perpecahan atau kekerasan. Proses
itu dipercepat oleh situasi politik beberapa kerajaan dimana adipati-adipati
pesisir berusaha melepaskan diri dari kekuasaan pemerintah pusat.
2.
Perkawinan
Para pedagang yang sudah menetap itu kedudukan
ekonomi dan sosialnya semakin baik. Ia menjadi kaya dan terhormat, tetapi
keluarganya tidak dibawa serta. Para pedagang itu kemudian mengawini
gadis-gadis setempat dengan syarat mereka harus masuk Islam. Cara ini pun tidak
mengalami kesulitan. Saluran Islamisasi lewat perkawinan ini lebih
menguntungkan lagi apabila saudagar atau ulama Islam berhasil mengawini anak
raja atau adipati. Kalau raja atau adipati itu sudah Islam maka rakyatnya akan
mudah untuk diIslamkan. Misalnya : perkawinan Maulana Iskhah dengan putri raja
Blambangan melahirkan sunan Giri. Raden Rahmat (Sunan Ngampel) kawin dengan
Nyai Gede Manila, putri Tumenggung Wilatikta. Perkawinan putri Kawunganten
dengan Sunan Gunung Jati di Cirebon. Perkawinan putri adipati Tuban (R.A. Teja)
dengan syeh Ngabdurahman (muslim Arab) melahirkan syeh Jali (Laleluddin).[3]
3.
Ajaran
Tasawuf
Tasawuf adalah ajaran ke-Tuhanan yang telah
bercampur dengan mistik dan hal-hal yang magis. Karena itu para ahli tasawuf ini
biasanya mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan
menyembuhkan. Kedatangan ahli-ahli tasawuf ke Indonesia diperkirakan sejak abad
ke-13, yaitu masa perkembangan dan penyebaran ahli-ahli tasawuf dari persia dan
India yang sudah beragama Islam.
Bersamaan dengan perkembangan tasawuf ini maka
dalam mengajarkan agama Islam disesuaikan dengan pola fikir masyarakat yang
masih berorientasi pada agama Hindu Budha, sehingga mudah untuk dimengerti.
Itulah sebabnya maka orang jawa begitu mudah menerima agama Islam.
4.
Pendidikan
Lembaga pendidikan yang paling tua adalah
pondok pesantren. Murid-muridnya (santri) tinggal di dalam pondok pesantren
semacam asrama dalam jangka waktu tertentu menurut tingkatan kelasnya. Yang
mengajar adalah guru-guru agama (kyai dan ulama). Para santri itu jika sudah
tamat lalu pulang ke daerah asalnya dan menjadi tokoh keagamaan yang juga terus
mengajarkan ilmunya kepada masyarakat disekitarnya.
Dengan cara ini Islam terus berkembang memasuki
daerah-daerah yang terpencil. Pondok pesantren yang telah berdiri pada masa
pertumbuhan Islam di Jawa antara lain : Pondok Ampel Denta di Surabaya yang
didirikan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel), pondok sunan Giri dimana santrinya
banyak yang berasal dari Maluku (daerah Hitu). Sedangkan raja-raja dan
keluarganya, kaum bangsawan, biasanya juga mendatangkan kyai atau ulama untuk
menjadi guru dan penasihat agama.
5.
Seni
Budaya
Misalnya seni bangun (masjid), seni pahat
(ukir), seni tari, seni musik, dan sastra. Dalam seni bangunan masjid, mimbar,
ukir-ukirannya masih menunjukkan seni tradisional bermotifkan budaya
Indonesia-Hindu seperti yang terdapat pada candi-candi Hindu atau Budha. Hal
yang demikian dapat dijumpai di masjid-masjid kuno Demak, Sendang Duwur, Agung
Kasepuhan (Cirebon), masjid Agung Banten, dan sebagainya. Juga adanya pintu
gerbang pada keraton-keraton Islam atau makam orang-orang yang dianggap keramat
menunjukkan bentuk candi bentar, kori agung. Begitu pula nisan kubur-kubur kuno
di Demak, Kudus, Corebon, Tuban, dan Madura. Semua menunjukkan budaya sebelum
Islam.
Hal itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa
Islam tidak meninggalkan seni budaya masyarakat yang telah ada, tetapi justru
ikut memeliharanya.
Misalnya dalam perayaan Grebeg Maulud (Sekaten)
di Yogyakarta, Surabaya, dan Cirebon. Juga lewat pertunjukan wayang yang telah
dipoles dengan unsur-unsur Islam. Menurut cerita, sunan Kalijaga juga pandai
memainkan wayang. Islamisasi lewat sastra ditempuh dengan cara menyalin
buku-buku tasawuf, hikayat, dan babad ke dalam bahasa pergaulan (melayu).
Proses Islamisasi di Indonesia itu dipercepat
lagi oleh adanya faktor-faktor[4]:
a.
Syarat-syarat
masuk agama Islam cukup mudah dan ringan.
b.
Pelaksanaan
ibadahnya sederhana dan biayanya murah.
c.
Tidak
mengenal sistem kasta, semua orang derajatnya sama.
d.
Agama
Islam dari Gujarat telah mendapat pengaruh Hindu dan tasawuf sehingga
pemahamannya mudah.
e.
Aturan-aturan
dalam Islam itu fleksibel dan tidak memaksa.
f.
Runtuhnya
kerajaan Hindu Majapahit pada akhir abad ke-15.
Agama Islam yang disebarkan dengan cara damai
dan kekeluargaan itu ternyata berhasil membawa beberapa perubahan sosial,
budaya, memperhalus, dan memperkaya budaya Indonesia. Penyesuaian antara adat
dan syari’ah selalu ada.[5]
C.
Peran Walisongo dalam menyebarkan Islam di Jawa
Penyebaran
Islam di pulau Jawa tidak terlepas dari perjuangan dakwah Walisongo. Walisongo
secara sederhana artinya Sembilan orang wali, sedangkan secara filosofis
maksudnya Sembilan orang yang telah mampu mencapai tingkat wali, suatu derajat
tingkat tinggi yang mampu mengawal babahan hawa sanga (mengawal Sembilan lubang
dalam diri manusia), sehingga memiliki peringkat wali.
Adapun walisongo
tersebut adalah:
1. Maulana
Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
Beliau masih
keturunan Ali Zaenal Abidin al-Husain yang dari Maghribi, Afrika Utara. Setelah
mendedikasikan dirinya di Gresik, Jawa Timur, beliau mendapat gelar Maulana
Maghribi, Sunan Gresik. Beliau datang ke Indonesia pada zaman kerajaan
Majapahit tahun 1379 untuk menyebarkan Islam bersama raja Cermin. Dikalangan
rakyat kecil beliau terkenal sebagai ulama yang berbudi luhur dan sangat
dermawan. Beliau wafat pada 1419 dan dimakamkan di Gresik.
2. Sunan
Ampel
Beliau lahir
pada tahun 1401 dengan nama kecil Raden Rahmat. Beliau adalah putra Raja
Campa.. Beliau terlibat dalam pembangunan Masjid Demak. Sunan Ampel merupakan
pelanjut perjuangan Maulana Malik Ibrahim. Beliau terkenal karena kemampuannya
berdakwah dengan mengarang syair dengan menggunakan ide-ide dan budaya lokal.
3. Sunan
Bonang
Beliau merupakan
anak sulung Sunan Ampel, dengan nama kecil Maulana Makhdum Ibrahim.beliau
terkenal dengan dakwah melalui wayang, menyempurnakan instrument gamelan dan
tembang bonang, kenong, kempul, tembang macapat, dan suluk wujil.
4. Sunan
Drajat
Beliau merupakan
anak dari Sunan Ampel, dengan nama kecil Syarifuddin atau Raden Qosim. Pada
masa kekacauan dan krisis social itu Sunan Drajat tampil membela nasib membela
rakyat yang tertindas. Beliau membantu Raden Patah dalam membina Masjid Demak.
Sunan Drajat menghendaki keseimbangan lahiriyah dan batiniah, jasmani dan
rohani, dunia dan akhirat, supaya hidup bahagia. Beliau
terkenal sebagai ulama yang besar jiwa sosialnya. Gamelan merupakan media
dakwah yang digunakan.
5. Sunan
Kalijaga
Beliau diakui
masyarakat Jawa sebagai guru suci ing tanah Jawi. Beliau mempunyai kemampuan
dalam menyampaikan dakwah dengan cara yang penuh hikmah dan bijaksana, yakni
berdakwah dengan 3 prinsip momong, momor, dan momot. Momong berarti bersedia mengasuh,
membimbing, dan mengarahkan. Momor berarti bersedia bergaul rapat, berkawan,
bersahabat, tanpa harus mempertimbangkan status social dan posisi
masing-masing. Sedangkan momot bersedia menampung aspirasi dari berbagai
lapisan masyarakat dengan cara dakwah seperti itu Islam berhasil dikembangkan
ke pelosok Jawa. Wayang
kulit adalah media syiar Islam yang beliau gunakan.
6. Sunan
Giri
Beliau lahir
pada tahun 1365 dengan nama kecil Jaka Samudra. Ketika remaja beliau berguru
pada Sunan Ampel, dan setelah mumpuni beliau diberi gelar Raden Paku oleh Sunan
Ampel, dan mengembangkan Islam di daerah Giri (Jawa Timur). Dalam Penyebaran Islam beliau mendirikan
pondok pesantren.
7. Sunan
Kudus
Nama kecil
beliau Ja’far Shaddiq, setelah dewasa mendapat gelar Sunan Kudus, karena
mengembangkan dakwah Islam di daerah Kudus, Jawa Tengah. Sunan Kudus terkenal
karena banyak mengarang sastra Jawa Islam yang digunakan sebagai media dakwah.
8. Sunan
Muria
Nama kecil
beliau Raden Umar Said. Beliau adalah putra dari Sunan Kalijaga. Beliau
mendapat gelar Sunan Muria, karena wilayah penyebaran dakwah beliau adalah di
kawasan Gunung Muria. Karya-karya penting Sunan Muria adalah lagu-lagu Jawa
Islam seperti tembang sinom dan tembang kinanti.
9. Sunan
Gunung Jati
Nama lain beliau
Syarif Hidayatullah, Fatahillah. Beliau dilahirkan di Pasai, Aceh, dan setelah
dewasa menuntut ilmu ke Mekkah, kemudian mendedikasikan diri di Demak pada masa
Sultan Trenggono. Pada waktu Banten dikuasai Portugis, Sultan Trenggono
menugaskan beliau mengusir Portugis dari Banten. Atas jasanya Sunan Gunung Jati
diberi kekuasaan di Banten dan Cirebon. Beliau wafat dan dimakamkan di Gunung
Jati, sehingga di gelari dengan Sunan Gunung Jati.
IV. IV. Penutup
Dari uraian di
atas dapat kami simpulkan bahwa proses masuknya Islam di Jawa dan juga
Nusantara meliliki proses yang panjang yang selanjutnya proses islamisasi yng
dilakukan oleh Walisongo sangatlah berperan penting untuk kesusksesan pembawaan
Agama Islam di Indonesia.
Demikianlah
makalah ini kami buat , meskipun belum mencapai kesempurnaan. Selebihnya
harapan kami, bisa ditambahkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk
menyempurnakan makalah ini. Kami ucapkan Alhamdulillahirabbil‘alamin, puji
syukur Allah telah terselesaikan Tugas makalah kami. Semoga dapat
bermanfaat bagi pemakalah
khususnya dan pembaca umumnya. Amin yaa rabbal ‘alamin.
DAFTAR
PUSTAKA
Edi
Purwito dan Kuswanto, Sejarah Nasional Indonesia dan Sejarah Dunia,Solo
: Tiga Serangkai , 1987.
Edi Purwito dan Kuswanto, Sejarah Nasional Indonesia dan
Sejarah Dunia, Tiga Serangkai : Solo, 1987.
Graaf
, H.J. de dan Th.G.Th. Pigeaud. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa,
Jakarta: Temprint. 1986.
Syukur,
Fatah, sejarah Peradaban Islam, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009.
Shodiq, Potret Islam Jawa, Semarang: PT. Pustaka Rizqi Putra, 2013.
BIODATA
PEMAKALAH
1. Nama : Akrom Syafi’i
NIM : 133511099
TTL : Demak, 23 Agustus
1995
Alamat Asal : Betahwalang, Kecamatan Bonang,
Demak
Riwayat Pendidikan : SD N Betahwalang
Mts Miffal Betahwalang
MA NU 2 Serangan
2. Nama : Laras Asprilla
NIM : 133511101
TTL : Serang, 16 Maret
1995
Alamat Asal : Kalongan, RT 15 RW 02 Juwangi,
Boyolali
Email : larasasprilla@gmail.com
Riwayat Pendidikan : SD N 1 Juwangi
SMP N 1 Juwangi
SMA N 1 Karangrayung
3. Nama : Arrohmatin Diana
NIM : 133511102
TTL : Jepara, 17
November 1994
Alamat Asal : Kalipucang Kulon, RT 01 RW 03
Welahan, Jepara
Riwayat Pendidikan : SD N 2 Kalipucang Kulon
SMP N 1 Welahan
SMA N 1 Welahan
4. Nama : Ahmad Minanur Rohim
NIM : 133611033
TTL : Demak, 7 Januari
1994
Alamat Asal : Desa Jetak, Wedung, Demak
Riwayat Pendidikan : MI Darussalam
MTs Darussalam
MA I’anatuth Thullab
[1] Shodiq, Potret Islam Jawa, (Semarang: PT.
Pustaka Rizqi Putra, 2013), Hal. 16.
[2] Edi Purwito dan Kuswanto, Sejarah Nasional Indonesia dan
Sejarah Dunia,( Solo : Tiga Serangkai , 1987), hal. 23-24.
[3] Edi Purwito dan Kuswanto, Sejarah Nasional
Indonesia dan Sejarah Dunia, ( Tiga Serangkai : Solo, 1987),
Hal 25
[4] Graaf , H.J. de dan Th.G.Th. Pigeaud. Kerajaan-Kerajaan
Islam Pertama di Jawa. (Jakarta: Temprint. 1986) Hal 19
[5] Edi Purwito dan Kuswanto, Sejarah Nasional Indonesia dan
Sejarah Dunia,( Tiga Serangkai : Solo, 1987), Hal 28

Tidak ada komentar:
Posting Komentar