Selasa, 29 Desember 2015

MASUKNYA ISLAM DI JAWA
MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah: Islam dan Budaya Jawa
Pengampu: M. Rikza Chamami, MSi

 
Disusun oleh:

Akrom Syafi’i                    (133511099)
Laras Asprilla                    (133511101)
Arrohmatin Diana              (133511102)
Ahmad Minanur Rohman  (133611033)


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI  WALISONGO
SEMARANG
2015

       I.    I.   Pendahuluan
Islam sebagai Agama yang universal (Rahmatan Lil’alamin), memiliki sikap adaptable untuk tumbuh di segala tempat dan waktu. Hanya saja pengaruh lokalitas dan tradisi dalam kelompok suku bangsa, diakui atau tidak, sulit dihindari dalam kehidupan masyarakat muslim. Namun demikian, sekalipun berhadapan dengan budaya lokal di dunia, keuniversalan islam tetap tidak akan batal
            Satu kebudayaan daerah yang cukup berpengaruh di Indonesia adalah kebudayaan Jawa, yang telah ada sejak zaman pra-sejarah. Kedatangan hindu dan budayanya di Jawa berkembanglah Hindu-jawa. Tapi disisi itu islam di Jawa telah masuk dengan berbagai alur, dan proses masuknya Islam di Nusantara juga memilki proses yang panjang, yang pastinya juga ada kaitannya dengan peran Walisongo. Maka dari itu kita akan membahas mengenai hal-hal tersebut

    II.      II. Rumusan Masalah

A.     Bagaimanakah Alur Penyebaran Islam di Jawa ?
B.     Proses Masuknya Islam di Nusantara (Indonesia) ?
C.     Bagaimana Peran  Walisongo dalam menyebarkan Islam di Jawa ?

 III.       III.   Pembahasan

A.     Alur Penyebaran Islam di Jawa
Dari segi alur wilayah pengislaman di Jawa, maka dapat diketahui bahwa wilayah Jawa Timur terlebih dahulu menerima Islam. Wilayah itu antara lain: Trawulan, Gresik, Tuban, Ampel, dan lingkungan kerajaan Majapahit. Adapun Wilayah Jawa Tengah yang terlebih dahulu menerima Islam adalah Jepara, Kudus, dan daerah alas Ronan batang. Jepara dan Kudus melalui tokoh Raden Rahmat, sedangkan alas Roban melaului Raden Fatah.
            Media yang digunakan dalam menyebarkan Islam masa awal adalah memanfaatkan jalur perdagangan dan perkawinan. Disamping itu juga melalui pesantren. Sebagaimana yang dirintis oleh Sunan Ampel, jalur perkawinan sebagaimana terjadi pada Darwati dari Cempa Muslim dan Majapahit atau sebagaimana Raden Rahmat dengan putri Wilatikta , yang menurut hikayat Hasanuddin putri itu bernama Nyai Gede Nila (Wasit, 1998: 17). Sebagaimana diperinci alur perjalanan Agama Islam sebagai berikut:
a.       Melalui perdagangan
b.      Melalui perkawinan
c.       Melalui Pendidikan (melalui pondok pesantren)
d.      Sufisme (mengajak untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT)
e.       Melalui Seni (lewat rebana, Wayang dan Lukis)
 [1]
B.     Proses Masuknya Islam di Nusantara (Indonesia)
Dalam kajian ilmu sejarah, tentang masuknya Islam di Indonesia masih “debatable”. Oleh karena itu perlu ada penjelasan lebih dahulu tentang pengertian “masuk”, antara lain:
1.      Dalam arti sentuhan (ada hubungan dan ada pemukiman Muslim).
2.      Dalam arti sudah berkembang adanya komunitas masyarakat Islam.
3.      Dalam arti sudah berdiri Islamic State (Negara/kerajaan Islam).
Selain itu juga masing-masing pendapat penggunakan berbagai sumber, baik dari arkeologi, beberapa tulisan dari sumber barat, dan timur. Disamping jiga berkembang dari sudut pandang Eropa Sentrisme dan Indonesia Sentrisme.

v  Ada Beberapa Pendapat Tentang Awal Masuknya Islam di Indonesia.

1.      Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7:

1.1.   Seminar masuknya islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan perjalanan Al mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur Sumatera.
1.2.   Dari Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China.
1.3.   Dari Gerini dalam Futher India and Indo-Malay Archipelago, di dalamnya menjelaskan bahwa kaum Muslimin sudah ada di kawasan India, Indonesia, dan Malaya antara tahun 606-699 M.
1.4.   Prof. Sayed Naguib Al Attas dalam Preliminary Statemate on General Theory of Islamization of Malay-Indonesian Archipelago (1969), di dalamnya mengungkapkan bahwa kaum muslimin sudah ada di kepulauan Malaya-Indonesia pada 672 M.
1.5.   Prof. Sayed Qodratullah Fatimy dalam Islam comes to Malaysiamengungkapkan bahwa pada tahun 674 M. kaum Muslimin Arab telah masuk ke Malaya.
1.6.   Prof. S. muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnay berjudul Islam di India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah ada hubungan dengan kaum muslimin Indonesia.
1.7.   W.P. Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled From Chinese sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang memberitahukan adanya Aarb muslim berkunjung ke Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih = Arab Muslim).
1.8.   T.W. Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of The Propagation of The Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke Indonesia pada tahun 1 Hijriyah (Abad 7 M).

2.      Islam Masuk Ke Indonesia pada Abad ke-11:

2.1.   Satu-satunya sumber ini adalah diketemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya. Pada makam itu terdapat prasati huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082)

3.      Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad Ke-13:

3.1.  Catatan perjalanan marcopolo, menyatakan bahwa ia menjumpai adanya kerajaan Islam Ferlec (mungkin Peureulack) di aceh, pada tahun 1292 M.
3.2.  K.F.H. van Langen, berdasarkan berita China telah menyebut adanya kerajaan Pase (mungkin Pasai) di aceh pada 1298 M.
3.3.  J.P. Moquette dalam De Grafsteen te Pase en Grisse VergelekenMet Dergelijk Monumenten uit hindoesten, menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13.
3.4.  Beberapa sarjana barat seperti R.A Kern; C. Snouck Hurgronje; dan Schrieke, lebih cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan saudah adanya beberapa kerajaaan islam di kawasan Indonesia.

v  Siapakah Pembawa Islam ke Indonesia ?

Sebelum pengaruh islam masuk ke Indonesia, di kawasan ini sudah terdapat kontak-kontak dagang, baik dari Arab, Persia, India dan China. Islam secara akomodatif, akulturasi, dan sinkretis merasuk dan punya pengaruh di arab, Persia, India dan China. Melalui perdagangan itulah Islam masuk ke kawasan Indonesia. Dengan demikian bangsa Arab, Persia, Indiadan china punya nadil melancarkan perkembangan islam di kawasan Indonesia.

a)      Gujarat (India)
Pedagang islam dari Gujarat, menyebarkan Islam dengan bukti-bukti antar lain:
1.      ukiran batu nisan gaya Gujarat.
2.      Adat istiadat dan budaya India islam.
b)     Persia
Para pedagang Persia menyebarkan Islam dengan beberapa bukti antar lain:
1.      Gelar “Syah” bagi raja-raja di Indonesia.
2.      Pengaruh aliran “Wihdatul Wujud” (Syeh Siti Jenar).
3.      Pengaruh madzab Syi’ah (Tabut Hasan dan Husen).
c)      Arab
Para pedagang Arab banyak menetap di pantai-pantai kepulauanIndonesia, dengan bukti antara lain:
1.      Menurut al Mas’udi pada tahun 916 telah berjumpa Komunitas Arab dari Oman, Hidramaut, Basrah, dan Bahrein untuk menyebarkan islam di lingkungannya, sekitar Sumatra, Jawa, dan Malaka.
2.      munculnya nama “kampong Arab” dan tradisi Arab di lingkungan masyarakat, yang banyak mengenalkan islam.
d)     China
Para pedagang dan angkatan laut China (Ma Huan, Laksamana Cheng Ho/Dampo awan ?), mengenalkan islam di pantai dan pedalaman Jawa dan sumatera, dengan bukti antar lain :
1.      Gedung Batu di semarang (masjid gaya China).
2.      Beberapa makam China muslim.
3.      Beberapa wali yang dimungkinkan keturunan China.
Dari beberapa bangsa yang membawa Islam ke Indonesia pada umumnya menggunakan pendekatan cultural, sehingga terjadi dialog budaya dan pergaulan social yang penuh toleransi (Umar kayam:1989)

v  Teori-teori penyebaran Islam di Jawa
Penyebaran Islam di Jawa melalui :
1.      Perdagangan
Pedagang-pedagang muslim yang melalui perkembangan lalu lintas pelayaran dan perdagangan dunia yang ramai mulai abad ke-7 sampai abad ke-16, yaitu antara Eropa, Timur Tengah, India, Asia Tenggara, dan Cina banyak menetap di kota-kota pelabuhan dan membentuk perkampungan muslim.[2] Di perkampungan itu, ada beberapa orang yang melakukan proses islamisasi yang dibantu para pedagang muslim untuk lebih mengenal Islam. Mereka tertarik masuk Islam karena mereka melihat bahwa Islam tidak memaksa atau merepotkan penduduk non muslim untuk mengikuti ajaran Islam. Mereka dapat bersosialisasi dengan baik dengan penduduk non muslimtanpa adanya perpecahan atau kekerasan. Proses itu dipercepat oleh situasi politik beberapa kerajaan dimana adipati-adipati pesisir berusaha melepaskan diri dari kekuasaan pemerintah pusat.
2.      Perkawinan
Para pedagang yang sudah menetap itu kedudukan ekonomi dan sosialnya semakin baik. Ia menjadi kaya dan terhormat, tetapi keluarganya tidak dibawa serta. Para pedagang itu kemudian mengawini gadis-gadis setempat dengan syarat mereka harus masuk Islam. Cara ini pun tidak mengalami kesulitan. Saluran Islamisasi lewat perkawinan ini lebih menguntungkan lagi apabila saudagar atau ulama Islam berhasil mengawini anak raja atau adipati. Kalau raja atau adipati itu sudah Islam maka rakyatnya akan mudah untuk diIslamkan. Misalnya : perkawinan Maulana Iskhah dengan putri raja Blambangan melahirkan sunan Giri. Raden Rahmat (Sunan Ngampel) kawin dengan Nyai Gede Manila, putri Tumenggung Wilatikta. Perkawinan putri Kawunganten dengan Sunan Gunung Jati di Cirebon. Perkawinan putri adipati Tuban (R.A. Teja) dengan syeh Ngabdurahman (muslim Arab) melahirkan syeh Jali (Laleluddin).[3]
3.      Ajaran Tasawuf
Tasawuf adalah ajaran ke-Tuhanan yang telah bercampur dengan mistik dan hal-hal yang magis. Karena itu para ahli tasawuf ini biasanya mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan menyembuhkan. Kedatangan ahli-ahli tasawuf ke Indonesia diperkirakan sejak abad ke-13, yaitu masa perkembangan dan penyebaran ahli-ahli tasawuf dari persia dan India yang sudah beragama Islam.
Bersamaan dengan perkembangan tasawuf ini maka dalam mengajarkan agama Islam disesuaikan dengan pola fikir masyarakat yang masih berorientasi pada agama Hindu Budha, sehingga mudah untuk dimengerti. Itulah sebabnya maka orang jawa begitu mudah menerima agama Islam.
4.      Pendidikan
Lembaga pendidikan yang paling tua adalah pondok pesantren. Murid-muridnya (santri) tinggal di dalam pondok pesantren semacam asrama dalam jangka waktu tertentu menurut tingkatan kelasnya. Yang mengajar adalah guru-guru agama (kyai dan ulama). Para santri itu jika sudah tamat lalu pulang ke daerah asalnya dan menjadi tokoh keagamaan yang juga terus mengajarkan ilmunya kepada masyarakat disekitarnya.
Dengan cara ini Islam terus berkembang memasuki daerah-daerah yang terpencil. Pondok pesantren yang telah berdiri pada masa pertumbuhan Islam di Jawa antara lain : Pondok Ampel Denta di Surabaya yang didirikan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel), pondok sunan Giri dimana santrinya banyak yang berasal dari Maluku (daerah Hitu). Sedangkan raja-raja dan keluarganya, kaum bangsawan, biasanya juga mendatangkan kyai atau ulama untuk menjadi guru dan penasihat agama.
5.      Seni Budaya
Misalnya seni bangun (masjid), seni pahat (ukir), seni tari, seni musik, dan sastra. Dalam seni bangunan masjid, mimbar, ukir-ukirannya masih menunjukkan seni tradisional bermotifkan budaya Indonesia-Hindu seperti yang terdapat pada candi-candi Hindu atau Budha. Hal yang demikian dapat dijumpai di masjid-masjid kuno Demak, Sendang Duwur, Agung Kasepuhan (Cirebon), masjid Agung Banten, dan sebagainya. Juga adanya pintu gerbang pada keraton-keraton Islam atau makam orang-orang yang dianggap keramat menunjukkan bentuk candi bentar, kori agung. Begitu pula nisan kubur-kubur kuno di Demak, Kudus, Corebon, Tuban, dan Madura. Semua menunjukkan budaya sebelum Islam.
Hal itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Islam tidak meninggalkan seni budaya masyarakat yang telah ada, tetapi justru ikut memeliharanya.
Misalnya dalam perayaan Grebeg Maulud (Sekaten) di Yogyakarta, Surabaya, dan Cirebon. Juga lewat pertunjukan wayang yang telah dipoles dengan unsur-unsur Islam. Menurut cerita, sunan Kalijaga juga pandai memainkan wayang. Islamisasi lewat sastra ditempuh dengan cara menyalin buku-buku tasawuf, hikayat, dan babad ke dalam bahasa pergaulan (melayu).
Proses Islamisasi di Indonesia itu dipercepat lagi oleh adanya faktor-faktor[4]:
a.       Syarat-syarat masuk agama Islam cukup mudah dan ringan.
b.      Pelaksanaan ibadahnya sederhana dan biayanya murah.
c.       Tidak mengenal sistem kasta, semua orang derajatnya sama.
d.      Agama Islam dari Gujarat telah mendapat pengaruh Hindu dan tasawuf sehingga pemahamannya mudah.
e.       Aturan-aturan dalam Islam itu fleksibel dan tidak memaksa.
f.       Runtuhnya kerajaan Hindu Majapahit pada akhir abad ke-15.
Agama Islam yang disebarkan dengan cara damai dan kekeluargaan itu ternyata berhasil membawa beberapa perubahan sosial, budaya, memperhalus, dan memperkaya budaya Indonesia. Penyesuaian antara adat dan syari’ah selalu ada.[5]

C.    Peran  Walisongo dalam menyebarkan Islam di Jawa

Penyebaran Islam di pulau Jawa tidak terlepas dari perjuangan dakwah Walisongo. Walisongo secara sederhana artinya Sembilan orang wali, sedangkan secara filosofis maksudnya Sembilan orang yang telah mampu mencapai tingkat wali, suatu derajat tingkat tinggi yang mampu mengawal babahan hawa sanga (mengawal Sembilan lubang dalam diri manusia), sehingga memiliki peringkat wali.
Adapun walisongo tersebut adalah:
1.      Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
Beliau masih keturunan Ali Zaenal Abidin al-Husain yang dari Maghribi, Afrika Utara. Setelah mendedikasikan dirinya di Gresik, Jawa Timur, beliau mendapat gelar Maulana Maghribi, Sunan Gresik. Beliau datang ke Indonesia pada zaman kerajaan Majapahit tahun 1379 untuk menyebarkan Islam bersama raja Cermin. Dikalangan rakyat kecil beliau terkenal sebagai ulama yang berbudi luhur dan sangat dermawan. Beliau wafat pada 1419 dan dimakamkan di Gresik.
2.      Sunan Ampel
Beliau lahir pada tahun 1401 dengan nama kecil Raden Rahmat. Beliau adalah putra Raja Campa.. Beliau terlibat dalam pembangunan Masjid Demak. Sunan Ampel merupakan pelanjut perjuangan Maulana Malik Ibrahim. Beliau terkenal karena kemampuannya berdakwah dengan mengarang syair dengan menggunakan ide-ide dan budaya lokal.
3.      Sunan Bonang
Beliau merupakan anak sulung Sunan Ampel, dengan nama kecil Maulana Makhdum Ibrahim.beliau terkenal dengan dakwah melalui wayang, menyempurnakan instrument gamelan dan tembang bonang, kenong, kempul, tembang macapat, dan suluk wujil.
4.      Sunan Drajat
Beliau merupakan anak dari Sunan Ampel, dengan nama kecil Syarifuddin atau Raden Qosim. Pada masa kekacauan dan krisis social itu Sunan Drajat tampil membela nasib membela rakyat yang tertindas. Beliau membantu Raden Patah dalam membina Masjid Demak. Sunan Drajat menghendaki keseimbangan lahiriyah dan batiniah, jasmani dan rohani, dunia dan akhirat, supaya hidup bahagia. Beliau terkenal sebagai ulama yang besar jiwa sosialnya. Gamelan merupakan media dakwah yang digunakan.
5.      Sunan Kalijaga
Beliau diakui masyarakat Jawa sebagai guru suci ing tanah Jawi. Beliau mempunyai kemampuan dalam menyampaikan dakwah dengan cara yang penuh hikmah dan bijaksana, yakni berdakwah dengan 3 prinsip momong, momor, dan momot. Momong berarti bersedia mengasuh, membimbing, dan mengarahkan. Momor berarti bersedia bergaul rapat, berkawan, bersahabat, tanpa harus mempertimbangkan status social dan posisi masing-masing. Sedangkan momot bersedia menampung aspirasi dari berbagai lapisan masyarakat dengan cara dakwah seperti itu Islam berhasil dikembangkan ke pelosok Jawa. Wayang kulit adalah media syiar Islam yang beliau gunakan.
6.      Sunan Giri
Beliau lahir pada tahun 1365 dengan nama kecil Jaka Samudra. Ketika remaja beliau berguru pada Sunan Ampel, dan setelah mumpuni beliau diberi gelar Raden Paku oleh Sunan Ampel, dan mengembangkan Islam di daerah Giri (Jawa Timur). Dalam Penyebaran Islam beliau mendirikan pondok pesantren.
7.      Sunan Kudus
Nama kecil beliau Ja’far Shaddiq, setelah dewasa mendapat gelar Sunan Kudus, karena mengembangkan dakwah Islam di daerah Kudus, Jawa Tengah. Sunan Kudus terkenal karena banyak mengarang sastra Jawa Islam yang digunakan sebagai media dakwah.
8.      Sunan Muria
Nama kecil beliau Raden Umar Said. Beliau adalah putra dari Sunan Kalijaga. Beliau mendapat gelar Sunan Muria, karena wilayah penyebaran dakwah beliau adalah di kawasan Gunung Muria. Karya-karya penting Sunan Muria adalah lagu-lagu Jawa Islam seperti tembang sinom dan tembang kinanti.
9.      Sunan Gunung Jati
Nama lain beliau Syarif Hidayatullah, Fatahillah. Beliau dilahirkan di Pasai, Aceh, dan setelah dewasa menuntut ilmu ke Mekkah, kemudian mendedikasikan diri di Demak pada masa Sultan Trenggono. Pada waktu Banten dikuasai Portugis, Sultan Trenggono menugaskan beliau mengusir Portugis dari Banten. Atas jasanya Sunan Gunung Jati diberi kekuasaan di Banten dan Cirebon. Beliau wafat dan dimakamkan di Gunung Jati, sehingga di gelari dengan Sunan Gunung Jati.

  IV.    IV. Penutup
Dari uraian di atas dapat kami simpulkan bahwa proses masuknya Islam di Jawa dan juga Nusantara meliliki proses yang panjang yang selanjutnya proses islamisasi yng dilakukan oleh Walisongo sangatlah berperan penting untuk kesusksesan pembawaan Agama Islam di Indonesia.
            Demikianlah makalah ini kami buat , meskipun belum mencapai kesempurnaan. Selebihnya harapan kami, bisa ditambahkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk menyempurnakan makalah ini. Kami ucapkan Alhamdulillahirabbil‘alamin, puji syukur Allah telah terselesaikan Tugas makalah kami. Semoga dapat bermanfaat bagi  pemakalah khususnya dan pembaca umumnya. Amin yaa rabbal ‘alamin.

DAFTAR PUSTAKA

Edi Purwito dan Kuswanto, Sejarah Nasional Indonesia dan Sejarah Dunia,Solo :   Tiga Serangkai , 1987.
Edi Purwito dan Kuswanto, Sejarah Nasional Indonesia dan Sejarah Dunia, Tiga Serangkai : Solo, 1987.
Graaf , H.J. de dan Th.G.Th. Pigeaud. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Jakarta: Temprint. 1986.
Syukur, Fatah, sejarah Peradaban Islam, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009.
Shodiq, Potret Islam Jawa, Semarang: PT. Pustaka Rizqi Putra, 2013.

BIODATA PEMAKALAH

1.      Nama                           : Akrom Syafi’i
NIM                            : 133511099
TTL                             : Demak, 23 Agustus 1995
Alamat Asal                : Betahwalang, Kecamatan Bonang, Demak
Email                           : akromsyafii7@gmail.com
Riwayat Pendidikan   : SD N Betahwalang
                                      Mts Miffal Betahwalang
                                      MA NU 2 Serangan


2.      Nama                           : Laras Asprilla
NIM                            : 133511101
TTL                             : Serang, 16 Maret 1995
Alamat Asal                : Kalongan, RT 15 RW 02 Juwangi, Boyolali
Email                           : larasasprilla@gmail.com
Riwayat Pendidikan   : SD N 1 Juwangi
                                      SMP N 1 Juwangi
                                      SMA N 1 Karangrayung

3.      Nama                           : Arrohmatin Diana
NIM                            : 133511102
TTL                             : Jepara, 17 November 1994
Alamat Asal                : Kalipucang Kulon, RT 01 RW 03 Welahan, Jepara
Email                           : arrohmatin@gmail.com
Riwayat Pendidikan   : SD N 2 Kalipucang Kulon
                                      SMP N 1 Welahan
                                      SMA N 1 Welahan

4.      Nama                           : Ahmad Minanur Rohim
NIM                            : 133611033
TTL                             : Demak, 7 Januari 1994
Alamat Asal                : Desa Jetak, Wedung, Demak
Email                           : minanaplikasi@gmail.com
Riwayat Pendidikan   : MI Darussalam
                                      MTs Darussalam
                                      MA I’anatuth Thullab




[1] Shodiq, Potret Islam Jawa, (Semarang: PT. Pustaka Rizqi Putra, 2013), Hal. 16.
[2] Edi Purwito dan Kuswanto, Sejarah Nasional Indonesia dan Sejarah Dunia,( Solo : Tiga Serangkai , 1987), hal. 23-24.
[3] Edi Purwito dan Kuswanto,  Sejarah Nasional Indonesia dan Sejarah Dunia,  ( Tiga Serangkai : Solo, 1987),  Hal 25
[4] Graaf , H.J. de dan Th.G.Th. Pigeaud. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa. (Jakarta: Temprint. 1986) Hal 19
[5] Edi Purwito dan Kuswanto, Sejarah Nasional Indonesia dan Sejarah Dunia,( Tiga Serangkai : Solo, 1987),  Hal 28

Tidak ada komentar:

Posting Komentar