Selasa, 29 Desember 2015

laporan ronggowarsito





LAPORAN RONGGOWARSITO

Disusun Guna Memenuhi Tugas UTS
Mata Kuliah: Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu: M. Rikza Chamami, MSI.





  
Oleh:
                Akrom Syafi’i                133511099

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS ILMU SAIN DAN TEKNOLOGI (SAINTEK)
UNIVERSITAS  ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015

I. RUMUSAN MASALAH
1.      Apa saja yang anda lihat di dalam Musium ronggowarsito ?
2.      Bagaimana memaknai peninggalan-peninggalan Jawa Islam ?
3.      Bagaimana interpretasi terhadap interelasi Islam dan Jawa yang ada di museum ronggowarsito ?

II. PEMBAHASAN

1.      Yang saya lihat di Musium ronggowarsito
Musium ronggowarsito termasuk museum yang sangat besar yang ada di Semarang, museum memiliki banyak benda-benda peninggalan, alat-alat peninggalan, budaya, tradisi, dan lain-lain, adapun secara rinci berawal dari penelusuranku di museum ini, saya menemukan banyak hal, antara lain :
a.       Koleksi-koleksi hibah
b.      Fosil-fosil
c.       Macam-macam alat elektrnik, seperti rdio, tape, CD dll.
d.      Tanah dan batuan
e.       Mengenali fenomena alam
f.       Meteor
g.       Kerangka hewan.
h.      Tengkorak kepala manusia zaman dulu
i.        Macam-macam alat tajam, semisalkapak
j.        Alat berburu pada zaman dulu
k.      Macam-macam arca
l.        Gerabah dari berbagai kabupaten
m.    Macam-macam perhiasan/manik-manik
n.      Maket berbagai candi yang ada di Indonesia
o.      Macam-macan Dhyani Budha
p.      Peninggala-peninggalan masa dulu
q.      Mustak masjid
r.        Mimbar khutbah Ki ageng Selo
s.       Blencong Solo
t.        Alqur’an Surakarta
u.      Sirap atap Masjid Agung Demak
v.      Jambangan
w.     Cerobong Sumur
x.      Alat-alat Wayang
y.      Meriam
z.       Tandu jendral Sudirman
aa.   Foto-foto pahlawan
bb.  Alat-alat Musik
cc.   Logo-logo Kabupaten,
dd.  Jenis-jenis mata uang,dll.

2.      Memaknai peninggalan-peninggalan Jawa islam

1.      MASJID
Masjid bermakna sebagai tempat bersujud, yaitu tempat orang-orang melaksanakan ibadah bagi orang-orang Islam. Ciri-ciri masjid kuno pada masa awal penyebaran Agama Islam adalah:
a.       Atap masjid berbentuk bujur sangkar dan bertingkat seperti pura
b.      Mimbar masjid berbentuk teratai
c.       Hiasan masjid biasanya berbentuk ukiran
d.      Masjid kuno di kota biasanya berada di tengah kota dan menghadap alun-alun serta dekat dengan istana
e.       Dikiri atau kanan masjid biasanya ada gapura untuk menyerukan andzan
f.       Didalam masjid biasanya ada tiang-tiang yang mengelilingi empat tiang induk

2.      KERATON
Keraton adalah tempat untuk melakukan acar-acara penting yang menyangkut urusan kerajaan dan sebagai tempat tinggal raja dan keluarganya. Bangunan utama keratin dikelilingi tembok, keratin biasanya dijadikan sebagai tempat musyawarah tentang keagamaan. Maka dari itu keratin sangat bermakna sekali pada saat kehidupn dulu,khususnya dalam budaya Islam Jawa.

3.      MAKAM
Makam adalah tempat kediaman terakhir bagi orang yang telah meninggal dunia, pada zaman dahulu pemakaman berada di perbukitan, dan susunan yang berundak-undak, makam kuno bercorak islam terdiri dari :
a.       Jirat atau Kijing, yaitu bangunan yang terbuat dari batu berbentuk persegi panjang dengan arah lintang utara atau selatan.
b.      Batu nisan, yaitu tonggak pendek sebagai tanda /nama orang yang meniggal.
c.       Cungkup, yaitu bangunan mirip rumah terdapat diatas jirat

4.      SASTRA
Kesustraan pada zaman Islam berkembang sekitar selat malaka dan pulau Jawa. Menurut cerita dan isinya satra dibedkan menjadi :
a.       Hikayat, (berupa cerita atau dongeng yang dibuat sebagai wahana pelipur lara)
b.      Badad, yaitu cerita berlatar belakang sejarah, misalnya badad tanah jawi
c.       Syair, yaitu Puisi lama yang yang tiap-tiap baitnya berisi empat baris yang berakhiran sama
d.      Suluk, yaitu Kitab-kitab yang menceritakan beberapa hal mengenai tasawuf.

5.      KALIGRAFI
Kaligrafi adalah seni melukis indah atau mengukir huruf-huruf arab yang berisikan tulisan-tulisan pengingat manusia kepada Allah SWT.

6.      GAMELAN
Gamelan adalah seperangkat alat music jawa yang terdiri dari saron, boning, rebab, gendang, gong, dan sebagainya. Gamelan biasanya dimainkan dalam perayaan tertentu, seperti perayaan mauled nabi, kemudian mengajak semua warga untuk berkumpul dan mendengarkan ceramaah.

Jadi, banyak sekali peninggalaan-peninggalan Islam Jawa yang telah kita temui, dan disitu mempunyai makna yang sangat besar untuk kejayaan islam dan keberlangsungan Islam di masa dating


3.      interpretasi terhadap interelasi Islam dan Jawa yang ada di museum ronggowarsito

INTERELASI NILAI JAWA ISLAM DALAM ASPEK RITUAL

Ketika membahas mengenai ritual, maka disitu tidak lepas dari sebuah tindakan,wujud nyata. Ritul ini bisa juga disebut tindakan keagamaan formal dan praktek-praktek suci yang diwujudkan dalam kebaktian, persekutuan suci, perkawinan dan sebagainya. Ketaatan dan ritual bagaikan ikan dengan air, apabila aspek ritual adalah komitmen formal dank has publik, maka ketaatan adalah perangkat tindakan persembahan dan kontemlasi personal, informal dank has peribadatan yang dwujudkan melalui sembahuang, membaca kitab suci, dan ekspresi lain bersam-sama.
Orang jawa mempercayai adanya hubungan manusia yang ditanggal di dunia ini dengan manusia yang tinggal di alam yang tak mampu dilihat oleh manusia biasa, agar tidak saling mengganggu perlu adanya ritual. Sebagai mana yang dilakukan orang jawa, menganjurkan kepada pemeluknya untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu, bentuk ritual ini tercantum dalam rukun islam, beberapa jalan ritual, yang telah menyatu dengan masyarakat islam jawa adalah sholat dan puasa. Menurut islam sholat itu adalah doa yang ditujukan kepada Allah SWT. Sedangkan menurut islam jawa sholat sebagai sarana bersih diridan dipandang sebagai pencapaian kesempurnaan ritual. Puasa merupakan penyucian rohani, Menurut Ronggowarsito bahwa puasa itu dapat ditukar dengan kata tapa, karena pelksanaan puasa selalu dibarengi dengan puasa. Dalam Islam kejawen, tapa itu merupakan bentuk latihan untuk menguatkan batin dalam pengekangan nafsu dunia secara konsisten dan terarah. Tujuan bertapa adalah untuk mendapatkan kesaktian dan dapat berkomunikasi dengan makhuk ghaib.
Dengan seiringnya waktu, islam memberikan warna yang baru dalam upacara yang hakikatnya merupakan upacara pendidikan budi pekerti terhadap orang jawa, seperti halnya upacara”sedekah bumi” yang masih ada hamper merata seluruh daerahterutama di pulau jawa. Upacara ini biasanya diadakan setelah panen sebagai bentuk terimaksih kepada “Dewi Sri”. Meskipun bentuknya berubah menjadi selametan, dengan membaca doa secara Islam. Selametan ini merupakan bentuk dari sinkretisme ajaran islam dengan nilai jawa. Demikian juga dengan bancaan dan kenduren, sedangkan bancaan adalah upacara sedekah makanan karena suatu hajat leluhur yang berkaitan dengan masalah pemerataan terhadap kenikmatan, kekuasaan dan kekayaan, dengan tujuan menghindari dari berbagai macam konflik yang disebabkan pembagian yang tidak adil. Biasanya dilakukan dalam acara bagi waris, keuntugan usaha dan sebagainnya. Dan yang dimaksud kenduren adalah upacara sedekah makan, karena seseorang telah memperoleh anugrah atau kesuksesan yang telah dicita-citakan.
Inilah berbagai upacara atau ritual (berkatan dengan lingkaran kehidupa) sebagai bentuk interelasi Islam jawa :
1.      Upacara tingkeban atau mitoni.
Acara ini adalah ritual pertama dari siklus kelahiran manusia, pada saat bayi berusia tujuh bulan di dalam Rahim seorang ibu
2.      Upacara kelahiran
Slametan pertama yang berhubungan dengan lahirnya bayi kalo orang Islam menyebutnya dengan aqiqah
3.      Upacara Sunatan
Upacara ini dilakukan ketika anak laki-laki dikhitan, pelaksanaan khitan ini merupakan perwujudan secara nyata tentang hukum islam.
4.      Upacara Perkawinan
Upacar ini dilakukan pada saat muda-mudi ingin melakukan hidup baru atau rumang tangga sendiri yang terlepas dari orang tua, upacara ini ditandai dengan pelaksanaan syariat islam yaitu akat nikah (ijab qabul) dan diiringi dengan slametan.
5.      Upacara kematian
Ritual ini adalah ritual terakhir yang dilaksanakan, pada ritual ini dilaksanakan saat mempersiapkan proses pemakaman orang yang meninggal, ditandai dengan proses pemandian, pengkafanan, dan penylatan serta proses terakhir yaitu mengkubur, selama satu minggu diadakan slametan, kemudian di hari ke empat puluh, sehatus, seribu dan seterusnya, sehingga orang yang sudah meninggal masih mendapatkan doa dari orang yang masih hidup, dengan berziarah atau nyadran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar