LAPORAN
RONGGOWARSITO
Disusun Guna Memenuhi Tugas UTS
Mata Kuliah: Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu: M. Rikza Chamami, MSI.
Oleh:
Akrom Syafi’i 133511099
JURUSAN PENDIDIKAN
MATEMATIKA
FAKULTAS ILMU SAIN DAN
TEKNOLOGI (SAINTEK)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
I. RUMUSAN MASALAH
1.
Apa
saja yang anda lihat di dalam Musium ronggowarsito ?
2.
Bagaimana
memaknai peninggalan-peninggalan Jawa Islam ?
3.
Bagaimana
interpretasi terhadap interelasi Islam dan Jawa yang ada di museum
ronggowarsito ?
II. PEMBAHASAN
1.
Yang
saya lihat di Musium ronggowarsito
Musium ronggowarsito termasuk
museum yang sangat besar yang ada di Semarang, museum memiliki banyak
benda-benda peninggalan, alat-alat peninggalan, budaya, tradisi, dan lain-lain,
adapun secara rinci berawal dari penelusuranku di museum ini, saya menemukan
banyak hal, antara lain :
a.
Koleksi-koleksi
hibah
b.
Fosil-fosil
c.
Macam-macam
alat elektrnik, seperti rdio, tape, CD dll.
d.
Tanah
dan batuan
e.
Mengenali
fenomena alam
f.
Meteor
g.
Kerangka
hewan.
h.
Tengkorak
kepala manusia zaman dulu
i.
Macam-macam
alat tajam, semisalkapak
j.
Alat
berburu pada zaman dulu
k.
Macam-macam
arca
l.
Gerabah
dari berbagai kabupaten
m.
Macam-macam
perhiasan/manik-manik
n.
Maket
berbagai candi yang ada di Indonesia
o.
Macam-macan
Dhyani Budha
p.
Peninggala-peninggalan
masa dulu
q.
Mustak
masjid
r.
Mimbar
khutbah Ki ageng Selo
s.
Blencong
Solo
t.
Alqur’an
Surakarta
u.
Sirap
atap Masjid Agung Demak
v.
Jambangan
w.
Cerobong
Sumur
x.
Alat-alat
Wayang
y.
Meriam
z.
Tandu
jendral Sudirman
aa.
Foto-foto
pahlawan
bb.
Alat-alat
Musik
cc.
Logo-logo
Kabupaten,
dd.
Jenis-jenis
mata uang,dll.
2.
Memaknai
peninggalan-peninggalan Jawa islam
1.
MASJID
Masjid bermakna sebagai tempat bersujud, yaitu
tempat orang-orang melaksanakan ibadah bagi orang-orang Islam. Ciri-ciri masjid
kuno pada masa awal penyebaran Agama Islam adalah:
a.
Atap
masjid berbentuk bujur sangkar dan bertingkat seperti pura
b.
Mimbar
masjid berbentuk teratai
c.
Hiasan
masjid biasanya berbentuk ukiran
d.
Masjid
kuno di kota biasanya berada di tengah kota dan menghadap alun-alun serta dekat
dengan istana
e.
Dikiri
atau kanan masjid biasanya ada gapura untuk menyerukan andzan
f.
Didalam
masjid biasanya ada tiang-tiang yang mengelilingi empat tiang induk
2.
KERATON
Keraton adalah tempat untuk melakukan acar-acara
penting yang menyangkut urusan kerajaan dan sebagai tempat tinggal raja dan
keluarganya. Bangunan utama keratin dikelilingi tembok, keratin biasanya
dijadikan sebagai tempat musyawarah tentang keagamaan. Maka dari itu keratin
sangat bermakna sekali pada saat kehidupn dulu,khususnya dalam budaya Islam
Jawa.
3.
MAKAM
Makam adalah tempat kediaman terakhir bagi orang
yang telah meninggal dunia, pada zaman dahulu pemakaman berada di perbukitan,
dan susunan yang berundak-undak, makam kuno bercorak islam terdiri dari :
a.
Jirat
atau Kijing, yaitu bangunan yang terbuat dari batu berbentuk persegi panjang
dengan arah lintang utara atau selatan.
b.
Batu
nisan, yaitu tonggak pendek sebagai tanda /nama orang yang meniggal.
c.
Cungkup,
yaitu bangunan mirip rumah terdapat diatas jirat
4.
SASTRA
Kesustraan pada zaman Islam berkembang sekitar selat
malaka dan pulau Jawa. Menurut cerita dan isinya satra dibedkan menjadi :
a.
Hikayat,
(berupa cerita atau dongeng yang dibuat sebagai wahana pelipur lara)
b.
Badad,
yaitu cerita berlatar belakang sejarah, misalnya badad tanah jawi
c.
Syair,
yaitu Puisi lama yang yang tiap-tiap baitnya berisi empat baris yang berakhiran
sama
d.
Suluk,
yaitu Kitab-kitab yang menceritakan beberapa hal mengenai tasawuf.
5.
KALIGRAFI
Kaligrafi adalah seni melukis indah atau mengukir
huruf-huruf arab yang berisikan tulisan-tulisan pengingat manusia kepada Allah
SWT.
6.
GAMELAN
Gamelan adalah seperangkat alat music jawa yang
terdiri dari saron, boning, rebab, gendang, gong, dan sebagainya. Gamelan
biasanya dimainkan dalam perayaan tertentu, seperti perayaan mauled nabi,
kemudian mengajak semua warga untuk berkumpul dan mendengarkan ceramaah.
Jadi, banyak sekali peninggalaan-peninggalan Islam
Jawa yang telah kita temui, dan disitu mempunyai makna yang sangat besar untuk
kejayaan islam dan keberlangsungan Islam di masa dating
3.
interpretasi
terhadap interelasi Islam dan Jawa yang ada di museum ronggowarsito
INTERELASI NILAI JAWA ISLAM DALAM
ASPEK RITUAL
Ketika membahas mengenai ritual,
maka disitu tidak lepas dari sebuah tindakan,wujud nyata. Ritul ini bisa juga
disebut tindakan keagamaan formal dan praktek-praktek suci yang diwujudkan
dalam kebaktian, persekutuan suci, perkawinan dan sebagainya. Ketaatan dan
ritual bagaikan ikan dengan air, apabila aspek ritual adalah komitmen formal
dank has publik, maka ketaatan adalah perangkat tindakan persembahan dan
kontemlasi personal, informal dank has peribadatan yang dwujudkan melalui
sembahuang, membaca kitab suci, dan ekspresi lain bersam-sama.
Orang jawa mempercayai adanya
hubungan manusia yang ditanggal di dunia ini dengan manusia yang tinggal di
alam yang tak mampu dilihat oleh manusia biasa, agar tidak saling mengganggu
perlu adanya ritual. Sebagai mana yang dilakukan orang jawa, menganjurkan
kepada pemeluknya untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu, bentuk ritual ini
tercantum dalam rukun islam, beberapa jalan ritual, yang telah menyatu dengan
masyarakat islam jawa adalah sholat dan puasa. Menurut islam sholat itu adalah
doa yang ditujukan kepada Allah SWT. Sedangkan menurut islam jawa sholat
sebagai sarana bersih diridan dipandang sebagai pencapaian kesempurnaan ritual.
Puasa merupakan penyucian rohani, Menurut Ronggowarsito bahwa puasa itu dapat
ditukar dengan kata tapa, karena pelksanaan puasa selalu dibarengi dengan
puasa. Dalam Islam kejawen, tapa itu merupakan bentuk latihan untuk menguatkan
batin dalam pengekangan nafsu dunia secara konsisten dan terarah. Tujuan
bertapa adalah untuk mendapatkan kesaktian dan dapat berkomunikasi dengan
makhuk ghaib.
Dengan seiringnya waktu, islam
memberikan warna yang baru dalam upacara yang hakikatnya merupakan upacara
pendidikan budi pekerti terhadap orang jawa, seperti halnya upacara”sedekah
bumi” yang masih ada hamper merata seluruh daerahterutama di pulau jawa.
Upacara ini biasanya diadakan setelah panen sebagai bentuk terimaksih kepada “Dewi
Sri”. Meskipun bentuknya berubah menjadi selametan, dengan membaca doa secara
Islam. Selametan ini merupakan bentuk dari sinkretisme ajaran islam dengan
nilai jawa. Demikian juga dengan bancaan dan kenduren, sedangkan bancaan adalah
upacara sedekah makanan karena suatu hajat leluhur yang berkaitan dengan
masalah pemerataan terhadap kenikmatan, kekuasaan dan kekayaan, dengan tujuan
menghindari dari berbagai macam konflik yang disebabkan pembagian yang tidak
adil. Biasanya dilakukan dalam acara bagi waris, keuntugan usaha dan
sebagainnya. Dan yang dimaksud kenduren adalah upacara sedekah makan, karena
seseorang telah memperoleh anugrah atau kesuksesan yang telah dicita-citakan.
Inilah berbagai upacara atau
ritual (berkatan dengan lingkaran kehidupa) sebagai bentuk interelasi Islam
jawa :
1.
Upacara
tingkeban atau mitoni.
Acara ini adalah ritual pertama dari siklus
kelahiran manusia, pada saat bayi berusia tujuh bulan di dalam Rahim seorang
ibu
2.
Upacara
kelahiran
Slametan pertama yang berhubungan dengan lahirnya
bayi kalo orang Islam menyebutnya dengan aqiqah
3.
Upacara
Sunatan
Upacara ini dilakukan ketika anak laki-laki
dikhitan, pelaksanaan khitan ini merupakan perwujudan secara nyata tentang
hukum islam.
4.
Upacara
Perkawinan
Upacar ini dilakukan pada saat muda-mudi ingin
melakukan hidup baru atau rumang tangga sendiri yang terlepas dari orang tua, upacara
ini ditandai dengan pelaksanaan syariat islam yaitu akat nikah (ijab qabul) dan
diiringi dengan slametan.
5.
Upacara
kematian
Ritual ini adalah ritual terakhir yang dilaksanakan,
pada ritual ini dilaksanakan saat mempersiapkan proses pemakaman orang yang
meninggal, ditandai dengan proses pemandian, pengkafanan, dan penylatan serta
proses terakhir yaitu mengkubur, selama satu minggu diadakan slametan, kemudian
di hari ke empat puluh, sehatus, seribu dan seterusnya, sehingga orang yang
sudah meninggal masih mendapatkan doa dari orang yang masih hidup, dengan
berziarah atau nyadran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar