Selasa, 29 Desember 2015

MINI RISET

Lunturnya Budaya Agamis di Pondok LUHUR Sebagai Pondok Pertama di Jawa Tengah dan Menapaktilasi Makam Waliyullah Mbah KH. Imam Syafii Pioro Negoro (Pendiri Pertama Pondok LUHUR) di kelurahan Wonosari  Dondong Kecamatan Ngalian Semarang

Laporan Penenlitian Mini Riset

Disusun Guna Memenuhi Tugas UAS
Mata Kuliah: Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu: M. Rikza Chamami, MSI.






Oleh:
    Akrom Syafi’i                133511099
                          JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS  ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
A.    LATAR BELAKANG
Pesantren tertua di Jawa Tengah terdapat di Kota Semarang. Pesantren itu ada di Kampung Dondong Kelurahan Wonosari Kecamatan Ngaliyan Semarang. Karena ada di Kampung Dondong, pesantren itu bernama Pesantren Dondong sebelum beralih nama menjadi Yayasan Luhur.
Salah satu sumber mencatat, pesantren itu didirikan pada tahun 1609 M oleh Kiai Syafii Pijoro Negoro (Waliyullah). Sementara sumber lain mencatat pesantren itu dibangun lebih muda yakni pada tahun 1612 M.
Membahas mengenai Islam dan Budaya Jawa, tentunya tidak terlepas dari sebuah pesantren, Islam tidak terlepas begitu juga dengan budaya pendidikan jawa yang tidak lepas dari sebuah pesantren. Hilangnya tradisi agamis yang pada pondok tersebut dan telah tercatat pendiri pertama pondok tersebut adalah seorang waliyullah menggugah saya untuk melakukan mini riset mengenai pondok tersebut dan penapaktilasan makam Mbah KH. Syafii Pioro Negoro sebagai Waliyulloh(sekaligus pendiri pertama pondok tersebut). Padahal pondok tersebut dulu adalah pondok pertama dijawa tengah dan sebagai pondok yang memiliki santri yang sangat banyak, sehingga memiliki budaya agamis yang kuat.

B.     TUJUAN PENELITIAN
1.      Untuk Mengetahui Letak Pondok LUHUR Dondong Kecamatan Ngaliyan Semarang
2.      Untuk Mengetahui Sejarah Pesantren LUHUR Dondong Kecamatan Ngaliyan Semarang dan Faktor-faktor Penyebab Hilangnya Budaya Agamis di Pondok tersebut
3.      Untuk Mengetahui sekilas tentang Penggantian Kepengurusan Pondok LUHUR Dondong Kecamatan Ngaliyan Semarang hingga keturunan ke tujuh.
4.      Untuk Mengetahui Perkembangan terakhir Pondok LUHUR Kecamatan Ngaliyan Semarang
5.      Mengenal Mbah KH.Syafii Pioro Negoro (Waliyullah)
6.      Untuk Mengetahui Sekilas tentang Makam Mbah KH. Syafii Pioro Negoro (Waliyullah)

C.     ANALISA LAPANGAN

1.      Letak Pondok LUHUR Dondong Kecamatan Ngaliyan Semarang yang sudah mulai tercium aura pesantren salaf yang bernuansa sepi (hilangnya budaya Islami pesantren)
    Untuk mengetahui perkembangan pesantren itu, saya Akrom Syafii (Mahasiswa Pendidikan Matematika UIN Walisongo Semarang) pada Minggu 12 Desember 2015 mengunjunginya. Berangkat dengan modal alamat saya langsung berangkat. Sesampai di daerah Wonosari, saya harus bertanya terlebih dahulu persisnya alamat tersebut.
Warga sekitar Wonosari Kecamatan Ngaliyan, dan Kecamatan Mangkang tampaknya sudah tak asing lagi dengan pesantren itu. Hal itu terbukti dengan salah satu pekerja toko bangunan di Jalan Raya Mangkang, yang menunjukan alamat pesantren itu dengan detail.
“Pondok Luhur ya Mas? Persisnya agak masuk, nanti ada rumah makan Sampurna sebelah kanannya ada gapura bertuliskan Kampung Dondong. Masuk saja, nanti sekitar 100 meter belok ke kanan. Nah nanti sudah bisa dijumpai pondoknya,” kata laki-laki muda yang belum sempat ditanya namanya itu.
Bergegaslah saya ke arah yang ditunjukan. Tak meleset, petunjuk yang diberikan cukup akurat. Memasuki lingkungan pesantren, saya merasakan aura pesantren salaf yang bernuansa hangat. Tak seperti pesantren-pesantren modern, pesantren ini tampak sangat sepi.

2.      Sejarah Pesantren LUHUR Dondong Kecamatan Ngaliyan Semarang dan Faktor-faktor Penyebab Hilangnya Budaya Agamis di Pondok tersebut
Gus (panggilan untuk keturunan kiai) ini dengan sangat rendah hati menceritakan sejarah Pesantren Dondong. Sebelum ia bercerita, pria berkulit putih terlebih dahulu menjelaskan kondisi terkini pesantren. Sekitar sepuluh tahun terakhir, pesantren ini mengalami kemunduran (hilangnya budaya Agamis) karena berbagai faktor.
Daerah Kelurahan Wonosari kerap diterpa banjir hingga mencapai dua meter. Banjir ini diakibatkan daerah atas Kecamatan Ngaliyan banyak dibangun pabrik dan perumahan sehingga volume air di Kali Beringin menjadi sangat besar dan deras. Setiap kali hujan datang, daerah ini pasti diterjang banjir, puncaknya pada November 2010, banjir bandang terjadi sehingga beberapa bangunan inti pesantren roboh. “ ada tiga korban balita yang meninggal dunia akibat rumah mereka diterjang banjir” ujar Gus Toba.
”Sejak itu, pesantren mengalami kehilangan budaya Agamis. Namun secara realitas faktor hilangnya budaya Agamis pada pondok tersebut adalah karena ditingal oleh para Kiainya. Ada beberapa bangunan inti yang roboh karena banjir dan juga kamar-kamar santri terendam air. Akibatnya santri banyak yang boyongan. Kantor pesantren yang menyimpan banyak arsip juga tak luput dari tejangan banjir,” tuturnya lirih.
Karena banjir yang terus-terusan melanda, arsip-arsip yang merekam jejak sejarah pesantren itu ikut hanyut terbawa air dan sebagian rusak. Karena itu, untuk mengetahui sejarah berdirinya pesantren ini secara detail tak bisa dijumpai di pesantren ini.
Selain dua lokal runtuh, pada tahun 2012 satu lokal bangunan tua itu kebakaran. ”Bangunan yang baru sekarang ini, itu dibangun pada masa Kiai Ma’mun. Kalau bangunan tuanya sudah roboh,” ujarnya.
”Semua arsip-arsip hilang, mungkin terbawa air dan mungkin sebagian rusak. Kejadian itu semasa saya masih mesantren dulu. Mungkin kalau tulisan-tulisan atau arsip tentang pesantren ini lebih ada di perpustakaan. Dulu katanya sih ada arsip tulisannya di KEMENAG. Tapi saya juga tulisannya belum pernah membacanya,” tutur alumnus Pesantren Tegalrejo Magelang ini.
Meskipun demikian Gus Toba menceritakan sejarah pesantren ini sepanjang yang ia tahu dari cerita-cerita orang tuanya. Sebagai generasi ketujuh, ia bercerita sembari mengutip apa yang sesepuh-sesepuh ceritakan padanya. Secara berurutan ia menyebutkan kiai-kiai generasi penerus Kiai Syafi’i selaku pendiri dan bubak tanah Mangkang.

3.      Penggantian Kepengurusan Pondok LUHUR Dondong Kecamatan Ngaliyan Semarang hingga keturunan ketujuh.
Diceritakannya, sepeninggal Kiai Syafii yang wafat pada 1711 M, pengurus pesantren digantikan menantunya Kiai Abu Darda dari Jekulo Undaan Kudus. Abu Darda merupakan suami dari Nyai Rogoniah binti Kiai Syafi’i. ”Menurut cerita-cerita sih Mbah Abu Darda itu masih keturunan Sunan Kudus,” ujarnya.
Namun, Gus Toba enggan membahas banyak soal silsilah pendiri pesantren lebih ke atas. Bukan karena tak mengharagai jasa-jasanya. Namun dengan sangat rendah hati ia menjelaskan bahwa keluarganya tak ingin terbuai dengan ketokohan sesepuh-sesepuhnya.”Biarlah para pendiri ini dikenal hanya sebagai pejuang agama dan bangsa ini. Kami tak begitu mengetahui silsilah lebih ke atas. Karena takutnya nanti keturunan-keturunannya sombong sehingga lupa diri. Kami takutnya itu, keturunan tak bisa mengendalikan diri,” tutur pria yang enggan diambil gambar ini.
Setelah Kiai Abu Darda wafat pada 1315 H, pengasuh digantikan menantunya Kiai Abdullah Buiqin bin Umar dari penanggulan Santren Kendal. Abdullah Buiqin merupakan suami dari Nyai Natijah binti Kiai Abu Darda.
Sepeninggal Kiai Abdullah Buiqin yang wafat pada 1340 H Pesantren Dondong Kiai Asy’ari bin Basuki yang merupakan suami Nyai Masruhah cucu dari Nyai Aisyah binti Kiai Abdu Darda. Kiai Asy’ari kemudian wafat pada 1374 H, selanjutnya digantikan oleh kiai Masqom bin Kiai Ahmad bin Kiai Abdullah Buiqin.
Selanjutnya, Kiai Masqan wafat pada tahun 1402 H dan digantikan adiknya Kiai Akhfadzul Athfal yang wafat pada Pada tahun 1411. Pascaitu pengasuh pesantren digantikan menantunya, yakni Kiai Ma’mun Abdul Aziz dari Ngebruk Mangkang. Kiai Ma’mun adalah suami dari Nyai Dalimatun binti Kiai Akhfadzul Athfal.
Sepeninggal Kiai Abu Darda, Pesantren Dondong kemudian diasuh Kiai Abdullah Tulkin yang merupakan cucu Kiai Syafii. Secara berurutan setelah Kiai Abdullah Tulkin kemudian diasuh Kiai Ahmad Ardabili (cicit), Kiai Masqon (canggah), dan KH Ahfadul Alfal.
Sekarang, pesantren itu diasuh oleh KH Abdullah Umar, KH Faisol Sanusi, Tubagus Mansur (Gus Toba). Gus Toba ini merupakan keturunan generasi ketujuh dari pendiri pesantren Dondong Kiai Syafii.
Penelitian itu diambil dari wawancara pada 12 Desember 2015 dengan Abah Nurur Rohman selaku Kiai saya (Guru besar) di PONPES NURUN NAJIH MANGKANG WETAN selaku Alumnus Pondok LUHUR.


4.      Perkembangan terakhir Pondok LUHUR Dondong Kecamatan Ngaliyan Semarang
Perkembangan terakhir Pesantren Dondong yang masih tersisa hanya ada sembilan santri mukim. Sementara santri kalong (pulang pergi) hanya ada 20 orang. Meskipun demikian, Gus Toba masih berharap bangunan bisa diperbaiki untuk menarik para santri yang akan mengaji.
Gus Toba untuk mengetahui sedikit di antara kiai yang pernah menjadi santri di Pondok Dondong mengaku banyak diceritakan oleh Kiai Hadlor Ikhas, Mangkang. Kiai Hadlor pernah bercerita kepadanya saat mengantar Gus Sholah, Putra Kiai Masruri Brebes berziarah ke makam Kiai Syafii.
“Kalau versinya Kiai Hadlor, Mbahnya Kiai Masruri pernah nyantri disini. Saya diceritakan itu pada waktu Gus Sholah ziarah ke makam. Selain itu, menurut cerita Kiai Sholeh Darat juga pernah belajar bersama Kiai Syafii. Entah hubungannya kiai atau sodara, kami belum tahu,” ujarnya.
Sementara para alumnus yang pernah nyantri di pesantren itu adalah Mbahnya Kiai Hadlor Ikhsan. Kiai Mas’ud, pengasuh pesantren Darul Amanah Sukorejo alumni sekitar tahun 1970an. Ada juga Kiai Zamhari pengasuh pesantren Darunnajah Bogor.
Ada juga Muridnya Kiai Ahmad yang merupakan generasi kelima dari Kaliwungu dan sudah meninggal yakni Mbah Wali Syafa.

5.      Tentang Mbah KH.Syafii Pioro Negoro (Waliyullah)
Kiai Syafii, menurut ceritanya adalah pejuang Mataram, komandan pasukan Sultan Agung, yang menyerang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Perserikatan Perusahaan Hindia Timur di Batavia, pada 1629. Dalam perjalanannya, Kiai Syafii singgah dan kemudian bermukim di tempat yang sekarang bernama Kampung Dondong.
”Pada awalnya, beliau mendirikan semacam padepokan, belum berwujud pesantren seperti sekarang. Lambat laun, semakin banyak santri yang datang hingga akhirnya berkembang menjadi pesantren,” ujarnya. Konon, Kiai Syafii berasal dari daerah Klaten atau Yogyakarta (Keturunan Ki Ageng Gribik).

6.      Makam Mbah KH. Syafii Pioro Negoro
Pada bagian pintu bangunan yang berjejer memanjang berlantai dua terdapat tulisan pondok pesantren “luhur” Dondong, Wonosari, Ngaliyan. Begitu masuk, tak langsung dijumpai santrinya. Setelah memutar-mutar agak jauh, ditemui seorang santri yang kemudian mengantarkan ke tiga rumah pengurus pesantren.
Namun, saat itu sekitar pukul 19.30 WIB, di tiga rumah pengurus pesantren tak ada orang yang dimaksud. Ketiganya masih ada keperluan di luar rumah. Sehingga penulis harus menunggu sekitar satu jam untuk bertemu pengasuhnya. Sekitar pukul 20.30 WIB, datanglah seorang lelaki menggunakan sarung dengan menggunakan sepeda motor.
Dugaan kami benar, tak salah lagi orang yang datang adalah pengasuhnya yang bernama Tobagus Mansyur. Pria yang akrab disapa Gus Toba ini merupakan generasi ketujuh dari keturunan pendiri Pesantren Dondong Mbah KH. Syafi’i Pioro Negoro bin Kiai Guru Muhammad Sulaiman Singonegoro.
D.    KESIMPULAN DAN SARAN
1.      Kesimpulan
Pesantren tertua di Jawa Tengah terdapat di Kota Semarang. Pesantren itu ada di Kampung Dondong Kelurahan Wonosari Kecamatan Ngaliyan Semarang. pesantren itu didirikan pada tahun 1609 M oleh Kiai Syafii Pijoro Negoro (Waliyullah). Sementara sumber lain mencatat pesantren itu dibangun lebih muda yakni pada tahun 1612 M. Hilangnya budaya Agamis yang ada di pondok tersebut diakibatkan oleh fase-fase meninggalnya kiai-kiai yang secara turun temurun menjadi pengasuhnya meninggal, dan juga faktor dari bencana alam, yaitu banjir, sehingga mengakibatkan arsip-arsip terpenting dipondok jadi musnah.
Mbah KH, Syafii, adalah pejuang Mataram, beliau mendirikan semacam padepokan, belum berwujud pesantren. Lambat laun, semakin banyak santri yang datang hingga akhirnya berkembang menjadi pesantren,”. Makam beliau berada di Kelurahan Wonosari Kecamatan Ngalian, dan beliau adalah seorang waliyullah
2.      Saran
Ketika membahas sebuah Islam dan Budaya jawa, kita sebagai insani yang toleran pastinya tak akan mau mengusik apa yang menjadi kepercyaan dan apa yang menjadi budaya insani lain yang berbeda dengan kita, karena kita adalah makhluk yang sama, memiliki hak yang sama, Kita boleh saling ber akulturasi dengan udaya ereka, tapi perlu diingat bahwa itu hanya sebatas toleransi terhadap Agama dan kebudayaan yang berbeda, namum hal ini yang harus perlu kita pahami adalah kita tidak boleh bertoleransi terhadap aqidah. Syukron kasir, semoga apa yang telah Allah berikan kepada kita menjadikan sebuah anugrah yang terbaik bagi kita, dan kita patut mensyukurinya. Semoga bermanfaat, Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar