Lunturnya Budaya Agamis di
Pondok LUHUR Sebagai Pondok Pertama di Jawa Tengah dan Menapaktilasi Makam
Waliyullah Mbah KH. Imam Syafii Pioro Negoro (Pendiri Pertama Pondok LUHUR) di kelurahan Wonosari Dondong Kecamatan Ngalian Semarang
Laporan Penenlitian Mini Riset
Disusun Guna Memenuhi Tugas UAS
Mata Kuliah: Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu: M. Rikza Chamami, MSI.
Oleh:
Akrom Syafi’i 133511099
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN
KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
A. LATAR
BELAKANG
Pesantren
tertua di Jawa Tengah terdapat di Kota Semarang. Pesantren itu ada di Kampung
Dondong Kelurahan Wonosari Kecamatan Ngaliyan Semarang. Karena ada di Kampung
Dondong, pesantren itu bernama Pesantren Dondong sebelum beralih nama menjadi
Yayasan Luhur.
Salah
satu sumber mencatat, pesantren itu didirikan pada tahun 1609 M oleh Kiai
Syafii Pijoro Negoro (Waliyullah).
Sementara sumber lain mencatat pesantren itu dibangun lebih muda yakni pada
tahun 1612 M.
Membahas
mengenai Islam dan Budaya Jawa, tentunya tidak terlepas dari sebuah pesantren,
Islam tidak terlepas begitu juga dengan budaya pendidikan jawa yang tidak lepas
dari sebuah pesantren. Hilangnya tradisi agamis yang pada pondok tersebut dan
telah tercatat pendiri pertama pondok tersebut adalah seorang waliyullah
menggugah saya untuk melakukan mini riset mengenai pondok tersebut dan penapaktilasan
makam Mbah KH. Syafii Pioro Negoro sebagai Waliyulloh(sekaligus
pendiri pertama pondok tersebut). Padahal pondok tersebut dulu adalah pondok
pertama dijawa tengah dan sebagai pondok yang memiliki santri yang sangat
banyak, sehingga memiliki budaya agamis yang kuat.
B. TUJUAN
PENELITIAN
1. Untuk
Mengetahui Letak
Pondok LUHUR Dondong Kecamatan Ngaliyan Semarang
2. Untuk
Mengetahui Sejarah Pesantren LUHUR Dondong Kecamatan Ngaliyan Semarang dan
Faktor-faktor Penyebab Hilangnya Budaya Agamis di Pondok tersebut
3. Untuk
Mengetahui sekilas tentang Penggantian Kepengurusan Pondok LUHUR Dondong Kecamatan
Ngaliyan Semarang hingga keturunan ke tujuh.
4. Untuk Mengetahui Perkembangan
terakhir Pondok LUHUR Kecamatan Ngaliyan Semarang
5. Mengenal Mbah KH.Syafii Pioro Negoro
(Waliyullah)
6. Untuk
Mengetahui Sekilas tentang Makam Mbah KH. Syafii Pioro Negoro (Waliyullah)
C. ANALISA
LAPANGAN
1. Letak Pondok LUHUR Dondong Kecamatan
Ngaliyan Semarang yang sudah mulai tercium aura pesantren salaf yang bernuansa
sepi (hilangnya budaya Islami pesantren)
Untuk mengetahui perkembangan
pesantren itu, saya Akrom Syafii (Mahasiswa Pendidikan Matematika UIN Walisongo
Semarang) pada Minggu 12 Desember 2015 mengunjunginya. Berangkat dengan modal
alamat saya langsung berangkat. Sesampai di daerah Wonosari, saya harus
bertanya terlebih dahulu persisnya alamat tersebut.
Warga
sekitar Wonosari Kecamatan Ngaliyan, dan Kecamatan Mangkang tampaknya sudah tak
asing lagi dengan pesantren itu. Hal itu terbukti dengan salah satu pekerja
toko bangunan di Jalan Raya Mangkang, yang menunjukan alamat pesantren itu
dengan detail.
“Pondok
Luhur ya Mas? Persisnya agak masuk, nanti ada rumah makan Sampurna sebelah
kanannya ada gapura bertuliskan Kampung Dondong. Masuk saja, nanti sekitar 100
meter belok ke kanan. Nah nanti sudah bisa dijumpai pondoknya,” kata laki-laki
muda yang belum sempat ditanya namanya itu.
Bergegaslah
saya ke arah yang ditunjukan. Tak meleset, petunjuk yang diberikan cukup
akurat. Memasuki lingkungan pesantren, saya merasakan aura pesantren salaf yang
bernuansa hangat. Tak seperti pesantren-pesantren modern, pesantren ini tampak
sangat sepi.
2. Sejarah
Pesantren LUHUR Dondong Kecamatan Ngaliyan Semarang dan Faktor-faktor Penyebab Hilangnya Budaya Agamis di Pondok tersebut
Gus
(panggilan untuk keturunan kiai) ini dengan sangat rendah hati menceritakan
sejarah Pesantren Dondong. Sebelum ia bercerita, pria berkulit putih terlebih
dahulu menjelaskan kondisi terkini pesantren. Sekitar sepuluh tahun terakhir,
pesantren ini mengalami kemunduran (hilangnya budaya Agamis) karena berbagai
faktor.
Daerah
Kelurahan Wonosari kerap diterpa banjir hingga mencapai dua meter. Banjir ini
diakibatkan daerah atas Kecamatan Ngaliyan banyak dibangun pabrik dan perumahan
sehingga volume air di Kali Beringin menjadi sangat besar dan deras. Setiap
kali hujan datang, daerah ini pasti diterjang banjir, puncaknya pada November
2010, banjir bandang terjadi sehingga beberapa bangunan inti pesantren roboh. “
ada tiga korban balita yang meninggal dunia akibat rumah mereka diterjang
banjir” ujar Gus Toba.
”Sejak
itu, pesantren mengalami kehilangan budaya Agamis. Namun secara realitas faktor
hilangnya budaya Agamis pada pondok tersebut adalah karena ditingal oleh para
Kiainya. Ada beberapa bangunan inti yang roboh karena banjir dan juga
kamar-kamar santri terendam air. Akibatnya santri banyak yang boyongan. Kantor
pesantren yang menyimpan banyak arsip juga tak luput dari tejangan banjir,” tuturnya
lirih.
Karena
banjir yang terus-terusan melanda, arsip-arsip yang merekam jejak sejarah
pesantren itu ikut hanyut terbawa air dan sebagian rusak. Karena itu, untuk
mengetahui sejarah berdirinya pesantren ini secara detail tak bisa dijumpai di pesantren
ini.
Selain dua
lokal runtuh, pada tahun 2012 satu lokal bangunan tua itu kebakaran. ”Bangunan
yang baru sekarang ini, itu dibangun pada masa Kiai Ma’mun. Kalau bangunan
tuanya sudah roboh,” ujarnya.
”Semua
arsip-arsip hilang, mungkin terbawa air dan mungkin sebagian rusak. Kejadian
itu semasa saya masih mesantren dulu. Mungkin kalau tulisan-tulisan atau arsip
tentang pesantren ini lebih ada di perpustakaan. Dulu katanya sih ada arsip
tulisannya di KEMENAG. Tapi saya juga tulisannya belum pernah membacanya,”
tutur alumnus Pesantren Tegalrejo Magelang ini.
Meskipun
demikian Gus Toba menceritakan sejarah pesantren ini sepanjang yang ia tahu
dari cerita-cerita orang tuanya. Sebagai generasi ketujuh, ia bercerita sembari
mengutip apa yang sesepuh-sesepuh ceritakan padanya. Secara berurutan ia
menyebutkan kiai-kiai generasi penerus Kiai Syafi’i selaku pendiri dan bubak
tanah Mangkang.
3. Penggantian
Kepengurusan Pondok LUHUR Dondong Kecamatan Ngaliyan Semarang hingga keturunan ketujuh.
Diceritakannya, sepeninggal Kiai
Syafii yang wafat pada 1711 M, pengurus pesantren digantikan menantunya Kiai
Abu Darda dari Jekulo Undaan Kudus. Abu Darda merupakan suami dari Nyai
Rogoniah binti Kiai Syafi’i. ”Menurut cerita-cerita sih Mbah Abu Darda itu
masih keturunan Sunan Kudus,” ujarnya.
Namun, Gus Toba enggan membahas
banyak soal silsilah pendiri pesantren lebih ke atas. Bukan karena tak
mengharagai jasa-jasanya. Namun dengan sangat rendah hati ia menjelaskan bahwa
keluarganya tak ingin terbuai dengan ketokohan sesepuh-sesepuhnya.”Biarlah para
pendiri ini dikenal hanya sebagai pejuang agama dan bangsa ini. Kami tak begitu
mengetahui silsilah lebih ke atas. Karena takutnya nanti keturunan-keturunannya
sombong sehingga lupa diri. Kami takutnya itu, keturunan tak bisa mengendalikan
diri,” tutur pria yang enggan diambil gambar ini.
Setelah Kiai Abu Darda wafat pada
1315 H, pengasuh digantikan menantunya Kiai Abdullah Buiqin bin Umar dari
penanggulan Santren Kendal. Abdullah Buiqin merupakan suami dari Nyai Natijah
binti Kiai Abu Darda.
Sepeninggal Kiai Abdullah Buiqin
yang wafat pada 1340 H Pesantren Dondong Kiai Asy’ari bin Basuki yang merupakan
suami Nyai Masruhah cucu dari Nyai Aisyah binti Kiai Abdu Darda. Kiai Asy’ari
kemudian wafat pada 1374 H, selanjutnya digantikan oleh kiai Masqom bin Kiai
Ahmad bin Kiai Abdullah Buiqin.
Selanjutnya, Kiai Masqan wafat pada
tahun 1402 H dan digantikan adiknya Kiai Akhfadzul Athfal yang wafat pada Pada
tahun 1411. Pascaitu pengasuh pesantren digantikan menantunya, yakni Kiai
Ma’mun Abdul Aziz dari Ngebruk Mangkang. Kiai Ma’mun adalah suami dari Nyai
Dalimatun binti Kiai Akhfadzul Athfal.
Sepeninggal Kiai Abu Darda,
Pesantren Dondong kemudian diasuh Kiai Abdullah Tulkin yang merupakan cucu Kiai
Syafii. Secara berurutan setelah Kiai Abdullah Tulkin kemudian diasuh Kiai
Ahmad Ardabili (cicit), Kiai Masqon (canggah), dan KH Ahfadul Alfal.
Sekarang, pesantren itu diasuh oleh
KH Abdullah Umar, KH Faisol Sanusi, Tubagus Mansur (Gus Toba). Gus Toba ini
merupakan keturunan generasi ketujuh dari pendiri pesantren Dondong Kiai
Syafii.
Penelitian itu diambil dari wawancara pada 12 Desember 2015 dengan
Abah Nurur Rohman selaku Kiai saya (Guru besar) di PONPES NURUN NAJIH MANGKANG
WETAN selaku Alumnus Pondok LUHUR.
4. Perkembangan terakhir Pondok LUHUR
Dondong Kecamatan Ngaliyan Semarang
Perkembangan terakhir Pesantren
Dondong yang masih tersisa hanya ada sembilan santri mukim. Sementara santri
kalong (pulang pergi) hanya ada 20 orang. Meskipun demikian, Gus Toba masih
berharap bangunan bisa diperbaiki untuk menarik para santri yang akan mengaji.
Gus Toba untuk mengetahui sedikit di
antara kiai yang pernah menjadi santri di Pondok Dondong mengaku banyak
diceritakan oleh Kiai Hadlor Ikhas, Mangkang. Kiai Hadlor pernah bercerita
kepadanya saat mengantar Gus Sholah, Putra Kiai Masruri Brebes berziarah ke
makam Kiai Syafii.
“Kalau versinya Kiai Hadlor, Mbahnya
Kiai Masruri pernah nyantri disini. Saya diceritakan itu pada waktu Gus Sholah
ziarah ke makam. Selain itu, menurut cerita Kiai Sholeh Darat juga pernah
belajar bersama Kiai Syafii. Entah hubungannya kiai atau sodara, kami belum
tahu,” ujarnya.
Sementara para alumnus yang pernah
nyantri di pesantren itu adalah Mbahnya Kiai Hadlor Ikhsan. Kiai Mas’ud,
pengasuh pesantren Darul Amanah Sukorejo alumni sekitar tahun 1970an. Ada juga
Kiai Zamhari pengasuh pesantren Darunnajah Bogor.
Ada juga Muridnya Kiai Ahmad yang
merupakan generasi kelima dari Kaliwungu dan sudah meninggal yakni Mbah Wali Syafa.
5. Tentang Mbah KH.Syafii Pioro Negoro
(Waliyullah)
Kiai
Syafii, menurut ceritanya adalah pejuang Mataram, komandan pasukan Sultan
Agung, yang menyerang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau
Perserikatan Perusahaan Hindia Timur di Batavia, pada 1629. Dalam
perjalanannya, Kiai Syafii singgah dan kemudian bermukim di tempat yang
sekarang bernama Kampung Dondong.
”Pada
awalnya, beliau mendirikan semacam padepokan, belum berwujud pesantren seperti
sekarang. Lambat laun, semakin banyak santri yang datang hingga akhirnya
berkembang menjadi pesantren,” ujarnya. Konon, Kiai Syafii berasal dari daerah
Klaten atau Yogyakarta (Keturunan Ki Ageng Gribik).
6. Makam Mbah KH. Syafii Pioro Negoro
Pada bagian pintu bangunan yang
berjejer memanjang berlantai dua terdapat tulisan pondok pesantren “luhur”
Dondong, Wonosari, Ngaliyan. Begitu masuk, tak langsung dijumpai santrinya.
Setelah memutar-mutar agak jauh, ditemui seorang santri yang kemudian
mengantarkan ke tiga rumah pengurus pesantren.
Namun,
saat itu sekitar pukul 19.30 WIB, di tiga rumah pengurus pesantren tak ada
orang yang dimaksud. Ketiganya masih ada keperluan di luar rumah. Sehingga
penulis harus menunggu sekitar satu jam untuk bertemu pengasuhnya. Sekitar
pukul 20.30 WIB, datanglah seorang lelaki menggunakan sarung dengan menggunakan
sepeda motor.
Dugaan
kami benar, tak salah lagi orang yang datang adalah pengasuhnya yang bernama
Tobagus Mansyur. Pria yang akrab disapa Gus Toba ini merupakan generasi ketujuh
dari keturunan pendiri Pesantren Dondong Mbah KH. Syafi’i Pioro Negoro bin Kiai
Guru Muhammad Sulaiman Singonegoro.
D. KESIMPULAN
DAN SARAN
1. Kesimpulan
Pesantren
tertua di Jawa Tengah terdapat di Kota Semarang. Pesantren itu ada di Kampung
Dondong Kelurahan Wonosari Kecamatan Ngaliyan Semarang. pesantren itu didirikan
pada tahun 1609 M oleh Kiai Syafii Pijoro Negoro (Waliyullah). Sementara sumber lain mencatat pesantren itu dibangun
lebih muda yakni pada tahun 1612 M. Hilangnya budaya Agamis yang ada di pondok
tersebut diakibatkan oleh fase-fase meninggalnya kiai-kiai yang secara turun
temurun menjadi pengasuhnya meninggal, dan juga faktor dari bencana alam, yaitu
banjir, sehingga mengakibatkan arsip-arsip terpenting dipondok jadi musnah.
Mbah
KH, Syafii, adalah pejuang Mataram, beliau mendirikan semacam padepokan,
belum berwujud pesantren. Lambat laun, semakin banyak santri yang datang hingga
akhirnya berkembang menjadi pesantren,”. Makam beliau berada di Kelurahan
Wonosari Kecamatan Ngalian, dan beliau adalah seorang waliyullah
2. Saran
Ketika membahas sebuah Islam dan Budaya jawa,
kita sebagai insani yang toleran pastinya tak akan mau mengusik apa yang
menjadi kepercyaan dan apa yang menjadi budaya insani lain yang berbeda dengan
kita, karena kita adalah makhluk yang sama, memiliki hak yang sama, Kita boleh
saling ber akulturasi dengan udaya ereka, tapi perlu diingat bahwa itu hanya
sebatas toleransi terhadap Agama dan kebudayaan yang berbeda, namum hal ini
yang harus perlu kita pahami adalah kita tidak boleh bertoleransi terhadap
aqidah. Syukron kasir, semoga apa yang telah Allah berikan kepada kita
menjadikan sebuah anugrah yang terbaik bagi kita, dan kita patut mensyukurinya.
Semoga bermanfaat, Amin.

